Latar Belakang

SEJARAH DAN LATAR BELAKANG KEBUDAYAAN

Pada masa orde lama, faktor yang membentuk masa adalah ideologi politik yang saat itu sedang menjadi main metaphor yang bergerak secara global. Indonesia termasuk salah satu di dalamnya, sehingga di Indonesia sendiri muncul gerakan-gerakan yang dipengaruhi oleh faktor tersebut. Akibatnya kebudayaan masa yang terbentuk saat itu juga merupakan ideologi politik yang memuat antara lain komunisme, nasionalisme dan islamisme.

Dalam masyarakat orde baru, kebudayaan yang muncul bersifat masif seperti, konser-konser musik dalam skala besar, serta munculnya gerakan-gerakan melawan pemerintah. Ada usaha melakukan proses radikalisasi baik untuk melawan pemerintahan maupun melawan tradisi. Ideologi politik yang membentuk masyarakat global sudah berbeda sama sekali dengan masa orde lama. Pada masa ini ekonomi dunia telah ditata dengan satu frame yaitu suatu sistem pembangunan fisik yang menyeluruh. Dalam frame tersebut terjadi proses industrialisasi dan kapitalisasi di segala bidang. Akibatnya, terjadi shock culture dari masyarakat tradisional ke masyarakat industrial. Pada masa ini persoalan yang muncul terkait hal itu tampak seperti adanya kenakalan-kenakalan remaja, dll. Budaya masa yang muncul pun terkait dengan masalah pembangunan seperti penggusuran, munculnya masyarakat kelas menengah baru, dll.

Setelah masa orde baru, kapitalisme tidak hanya mempengaruhi sisi industrial, tetapi berkembang menjadi budaya populer. Tidak lagi hanya berdagang produk tetapi menjadikan nilai nilai sehari-hari sebagai komoditas dari satu sistem ekonomi. Akibatnya relasi antar manusia menjadi terasing karena dimediasi secara dominan dalam faktor ekonomi. Hubungan antar orang, antar remaja, antar orang tua dengan anak, dengan tetangga bahkan di sekolah dan di ruang publik yang lain interaksinya bersifat ekonomistik. Situasi ini menciptakan manusia yang melankolik, manusia yang merasa sendirian karena dalam interaksi sosial dia tidak bisa hadir sebagai satu pribadi yang utuh.

Yang terjadi sekarang dimana nilai-nilai yang saat ini telah menjadi komoditas, muncul kelompok-kelompok satu sama lain yang saling berkompetisi. Hampir setiap kelompok ingin bersaing dalam posisi kulturalnya di ruang publik sebagai suatu komoditas. Artinya kebudayaan di dalam masyarakat post-industrial memunculkan nilai-nilai itu sendiri menjadi satu komoditas, menjadi suatu instrument politik untuk menciptakan diri sendiri di ruang publik.

DEMOGRAFI MEDIA SOSIAL

media sosial bisa menjadi alat transformasi dari kebudayaan lama ke dalam konteks yang baru. media sosial di tengah proses transmisi yang sangat besar pada saat yang sama menciptakan masyarakat yang melankolis

Demografi pengguna internet menunjukkan data bahwa media sosial mempunyai potensi besar menjadi alat transformasi dari kebudayaan lama ke dalam konteks yang baru. Dalam pengelolaan yang baik, media sosial dapat berfungsi sebagai untuk membantu proses transmisi nilai-nilai tradisi yang selama ini hanya beroperasi di suatu teritori tertentu ke dalam masyarakat dengan lintas batas yang sama sekali berbeda. Tetapi hal ini juga mengalami satu resiko, ketika media sosial ini menjadi masif, kita kurang memiliki keterikatan teritorial dengan masyarakat di sekitar kita karena afiliasi yang terjadi justru dengan masyarakat yang secara fisik jaraknya berjauhan.

Pada akhirnya sosial media yang digerakkan secara masif ini memiliki potensi dari aspek intensitas, komunikasi yang jauh menjadi dekat, dan yang dekat menjadi jauh. Hal ini berarti solidaritas antar manusia bergeser, dari semula bersifat teritorial menjadi lebih psikologis. Implikasinya, karena secara psikologis jarak yang jauh menjadi dekat tapi tidak tergapai sementara yang dekat menjadi jauh karena tidak adanya interaksi, media sosial menciptakan masyarakat yang melankolis di tengah proses transmisi yang sangat besar.

Indonesia Dalam Teori Dimensi Budaya Hofstede

Skor Indonesia untuk Power Distance termasuk tinggi (78). Ini berarti masyarakat Indonesia cenderung tergantung pada hirarki, ada perbedaan hak yang besar antara penguasa dengan non penguasa, serta kontrol yang kuat pada pemimpin. Masyarakat dengan tingkat Power
Distance yang tinggi akan cenderung menjadi pencari opini (opinion seeker) dibanding masyarakat dari budaya dengan Power Distance yang rendah. (Kau & Jung, 2004)
Di sisi Individualism vs Collectivism, Indonesia, mempunyai skor yang rendah (14). Ini berarti, Indonesia adalah masyarakat yang sangat kolektif. Budaya kolektif berarti cenderung lebih menyukai kerangka sosial yang kuat di mana individu diharapkan untuk mengikuti nilai-nilai dalam masyarakat dan kelompok di mana dia berada. Masyarakat dari budaya yang tinggi collectivism-nya akan cenderung lebih terpengaruh oleh orang lain (dalam hal ini, reference group, atau influencer). (Kau & Jung, 2004).

Menilik dari index Hofstede, berarti Indonesia sebenarnya jauh lebih ‘social’ dari negara-negara barat yang menjadi penemu social media. Karena sudah ada dalam budaya Indonesia itu sendiri, maka kehadiran social media begitu cepat berkembang pesat di Indonesia. Hal ini lebih lanjut juga akan mempengaruhi perilaku lainnya, misalnya dalam hal berbelanja, bepergian, beraktifitas, dll. Dalam berbelanja, apabila kita menilik dari teori budaya di atas, dapat diduga bahwa dalam berbelanja pun konsumen Indonesia akan cenderung mencari opini dan lebih
terpengaruh oleh kelompok pemberi pengaruh, dibanding masyarakat dengan Individualisme yang tinggi seperti misalnya di negara-negara Barat. Apabila kita renungkan hal ini lebih lanjut, maka perkawinan social media dengan social commerce menjadi lebih cepat booming di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara Barat, yang menjadi penemu istilah itu.