Dimensi Kebudayaan Nasional Dalam Index Hofstede

Hofstede membuat index yang mengukur negara-negara dalam 5 dimensi budaya berikut ini, yaitu: Power Distance, Individualism vs Collectivism, Uncertainty Avoidance, Masculinity vs Femininity, dan Long Term Orientation.

Dua dimensi yang mempunyai nilai cukup mencolok dari index Hofstede mengenai Indonesia adalah Power Distance dan Individualism vs Collectivism yang keduanya akan menjadi “senjata utama” dalam proses festival ini.

Skor Indonesia untuk Power Distance termasuk tinggi (78). Ini berarti masyarakat Indonesia cenderung tergantung pada hirarki, ada perbedaan hak yang besar antara penguasa dengan non penguasa, serta kontrol yang kuat pada pemimpin. Masyarakat dengan tingkat Power Distance yang tinggi akan cenderung menjadi pencari opini (opinion seeker) dibanding masyarakat dari budaya dengan Power Distance yang rendah. (Kau & Jung, 2004)

Di sisi Individualism vs Collectivism, Indonesia, mempunyai skor yang rendah (14). Ini berarti, Indonesia adalah masyarakat yang sangat kolektif.  Budaya kolektif berarti cenderung lebih menyukai kerangka sosial yang kuat di mana individu diharapkan untuk mengikuti nilai-nilai dalam masyarakat dan kelompok di mana dia berada. Masyarakat dari budaya yang tinggi collectivism-nya akan cenderung lebih terpengaruh oleh orang lain (dalam hal ini, reference group, atau influencer). (Kau & Jung, 2004).

Menilik dari index Hofstede, berarti Indonesia sebenarnya jauh lebih ‘social’ dari negara-negara barat yang menjadi penemu social media.  Karena sudah ada dalam budaya Indonesia itu sendiri, maka kehadiran social media begitu cepat berkembang pesat di Indonesia. Hal ini lebih lanjut juga akan mempengaruhi perilaku lainnya, misalnya dalam hal berbelanja, bepergian, beraktifitas, dll.

Dalam berbelanja, apabila kita menilik dari teori budaya di atas, dapat diduga bahwa dalam berbelanja pun konsumen Indonesia akan cenderung mencari opini dan lebih terpengaruh oleh kelompok pemberi pengaruh, dibanding masyarakat dengan Individualisme yang tinggi seperti misalnya di negara-negara Barat. Apabila kita renungkan hal ini lebih lanjut, maka perkawinan social media dengan social commerce menjadi lebih cepat booming di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara Barat, yang menjadi penemu istilah itu.