REDAKSIONAL

Banyak netizen menilai bahwa perhelatan Festival Melupakan Mantan (FMM) merupakan anti-tesis dari perayaan valentine yang identik dengan pesta, cokelat, boneka, dan sebagainya. Namun, pada dasarnya FMM bukanlah demikian, kami hanya merespon dan mencari makna dan arti cinta dari perjalanan balik layar. Bahwa di balik kebahagiaan, ada kisah perjuangan yang terus menerus dilakukan.

Kalau kita kembali kepada festival tradisional, kita akan melihat suatu upacara dengan orientasi yang sangat berkaitan dengan siklus hidup dan siklus panen manusia yang terkait dengan sistem kosmologi klasik satu masyarakat. Dalam masyarakat modern, festival atau ritual itu dilakukan atas dasar masyarakat yang mampu memanifestasikan diri, mengejawentahkan diri agar menjadi pribadi yang utuh karena dia merasa terasing.
Ritual atau upacara ini tampak misalnya dalam gathering, outing, dll yang menunjukkan bagaimana orang membutuhkan satu mediasi untuk hadir sebagai satu pribadi yang utuh.

FMM memadukan unsur tradisi ini dengan mengangkat konsep larung, dan menampilkan sesuai kondisi dan situasi yang terjadi dalam pergolakan anak muda masa kini. Maka penciptaan festival atau ritual ini dilakukan dengan mengambil nilai-nilai tradisi untuk diletakkan ke dalam konteks masyarakat yang sudah industrial meskipun festival ini pada akhirnya me-reverse pada momentum yang berkaitan dengan kebudayaan di luar kita (valentine) dari barat atau dari masyarakat yang sudah sangat industrial.

 

baca juga :