Ki Hajar Dewantara di Festival Melupakan Mantan

Saya hampir murka begitu tahu bahwa acara keren bertajuk Festival Melupakan Mantan (FMM) 2016 ditempatkan di Pendopo Agung Tamansiswa. Bukan karena apa, tapi itu Pendopo Agung, Bung! Didirikan oleh tokoh besar pulak!

Jomblo amatiran tentu tidak akan mengerti sejarahnya. Baiklah, saya akan coba terangken. Ketika Tamansiswa mulai berkembang, Ki Hajar Dewantara merasa perlu membangun pendopo sebagai tempat berkumpul dan bermusyawarah dalam bentuk visual ruang kolosal yang layak menampung banyak orang. Maka pada 10 Juli 1938 didirikanlah Pendopo Agung Tamansiswa, yang peletak batu pertamanya adalah istri Ki Hajar Dewantara sendiri.

Tetapi peresmiannya baru dilakukan pada 16 November 1938, bersamaan dengan Kongres Tamansiswa. Jadi, Pendopo Agung Tamansiswa itu bukan tempat sembarangan. Di tempat itu, dulu pernah berkumpul tokoh-tokoh besar untuk merumuskan strategi kebudayaan bangsa. Mereka tidak digaji. Tidak pula berbusa-busa dengan janji.

Lalu, 78 tahun kemudian, di tahun 2016, Pendopo Agung itu dijadikan tempat bertemunya para jomblo yang belum tahu cara move on, atau pasangan labil yang masih belum bisa lepas dari bayang-bayang kenangan bersama mantan. Astaghfirullah… Itu bid’ah! Ki Hajar Dewantara tak pernah membayangkan pendoponya akan dipakai untuk acara FMM.

Saya semakin heran, kok berani-beraninya panitia FMM memilih Pendopo Agung Tamansiswa sebagai tempat berlangsungnya acara. Keheranan itu akhirnya menggerakkan hati saya untuk hadir dan memantau langsung acara di sana. Ingat, posisi saya sebagai PEMANTAU, bukan sebagai PELAKU. Meski kalian tidak akan percaya pada apologi saya. Apalagi setelah ini saya akan bikin pengakuan jujur—saya ke sana berempat dengan teman berjenis kelamin laki-laki, dan semuanya berstatus: JOMBLO! Salah satu di antara mereka bahkan baru ditinggal pacarnya awal Januari lalu. Sampai di sini, Anda dilarang kepo!

Baru masuk pintu pendopo, murka saya kendor seketika (laiknya berpapasan dengan Cita Citata) melihat papan petunjuk lokasi parkir yang tidak biasa. Di papan itu tertulis sebuah alegori kreatif berbunyi “Tempat Parkir Kenangan”. Usai memarkir kendaraan, saya keliling di sekitar pendopo sambil lalu melihat-lihat galeri unik yang dipasang panitia. Dengan mudah saya temukan tulisan “Jogja Berhati Mantan”, “Area Bebas Mantan”, “Tempat Pembuangan Mantan”, dan yang paling unik, “Saya Sumbangkan Mantan Saya!!! NB: Harap Dirawat”. Sumpah, ada nuansa estetis yang saya tangkap di sana.

Kemasan acaranya memang kreatif. Nuansanya seninya dapet. Apalagi puncak acaranya adalah ritual larung. Dengan tujuan: melarung barang-barang mantan, melarung yang buruk-buruk dari kenangan. Adanya larung sudah cukup syarat untuk mendapatkan tanda tangan sah Ki Hajar Dewantara sebagai bukti izin menggunakan Pendopo Agung Tamsis untuk acara PMM. Mengapa? Karena larung adalah ritual budaya, sesuatu yang dijaga baik oleh Ki Hajar Dewantara.

Larung oleh orang Jawa lebih dikenal dengan sebutan “larungan”, yakni upacara membuang energi negatif melalui perantara simbol benda-benda. FMM mengadopsi konsep larung untuk membuang benda-benda yang berasal dari barisan para mantan. Tujuannya untuk mendatangkan energi positif yang—dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan 2030—disebut muv-on.

Setelah saya pikir-pikir, ternyata FMM tidak asal-asalan memilih Pendopo Agung Tamansiswa sebagai lokasi acara. Dengan mengangkat tema manjing catur puspaning kalbu (terjemah bebasnya: obrolan dari hati ke hati), panitia FMM mencoba menarik garis penghubung dengan konsep angesthi widji dari Ki Hajar Dewantara, yakni mempersiapkan bibit unggul untuk masa depan yang lebih baik.

Jika Ki Hajar Dewantara mengadakan kongres di Pendopo Agung Tamansiswa untuk merumuskan masa depan bangsa, maka panitia FMM mengadakan festival demi menyelamatkan mental generasi bangsa. FMM adalah Kongres Tamansiswa dalam bentuknya yang lain. Bukankan cita-cita luhur Ki Hajar Dewantara tidak akan pernah terwujud jika generasi mudanya labil karena gagal move on?!

Alasan lain, FMM memasukkan unsur seni sehingga tidak bisa digolongkan sebagai bentuk pelecehan terhadap Ki Hajar Dewantara. Sebab pendiri Tamansiswa ini menjunjung tinggi karya seni. Dan FMM, di tangan panitia, disulap menjadi sebuah peristiwa kesenian. Melupakan mantan bukan sekadar upaya menggantikan kenangan lama dengan kenangan baru. Memang, di satu sisi, move on hanya persoalan seberapa cepat engkau mendapatkan pengganti baru. Tetapi cara terbaik untuk melupakan—atau lebih tepatnya menetralisir perasaan—bukan dengan menghapus ingatan, melainkan dengan menerima secara positif vonis pahit kenyataan.

Memang tidak mudah, karena itulah dibutuhkan seni. Para jomblo yang baru diputus pacar dan tidak punya modal apa-apa selain—menyerobot istilah Sujiwo Tedjo—IQ melati, ia akan secara brutal membuang semua hal yang berasal dari mantan. Padahal ada sesuatu yang tak mungkin mereka buang, yaitu sejarah dan ingatan. Maka, putra-putri bangsa yang berada di barisan sakit hati, tetapi mereka berbekal IQ berbintang, tidak akan berbuat barbar terhadap kenangan. Mereka akan memilih berdamai dengan kenangan. Meski dengan sikap: pantang kembali kepada mantan.

Kita bisa meminta legitimasi kepada Erich Fromm. Dalam buku The Art of Loving (1956), psikolog kelahiran Jerman ini mempunyai pandangan menarik tentang cinta-mencintai, atau sakit-menyakiti. Kata Fromm, mencintai bukan soal transaksi aku “memiliki” (to having) kamu, melainkan sebuah proses seni antara aku dan kamu “menjadi” (to becoming) kita. Begitu juga dengan melupakan. Ia bukan perkara menghilangkan (to lossing) ingatan, melainkan seni memindahkan (to moving) diri dari sekapan masa lalu menuju masa depan yang baru.

Sekeras apapun engkau membuang mantan dari ingatanmu, ia sewaktu-waktu akan hadir merajam-rajam hidupmu. Kalau tak percaya, bertanyalah kepada Madridista yang berusaha melupakan mantan, tetapi justru gagal karena serangan mantan. Ingat, musim lalu, Real Madrid gagal lolos ke final Liga Champion gara-gara Morata menjebol gawang mantan klubnya. Padahal Madridista sudah membuang keras-keras kenangan bersama Morata. Tetapi Morata hadir tiba-tiba, sebagai ancaman, dari seorang yang berstatus mantan. Adakah di dunia ini yang lebih menyakitkan ketimbang kegagalan yang disebabkan oleh ulah sang mantan? Mikiiir…! So, pandai-pandailah “berdamai” dengan mantan, tapi bukan untuk “balikan”.

 

* sumber : http://secariksenja.blogspot.co.id/2016/02/ki-hajar-dewantara-di-festival.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *