Monthly Archives

9 Articles

Open Submission karya FMM 2017

by admin 0 Comments

#Kesah

Ketentuan Karya

  • Hasil karya pribadi/komunitas
  • Karya bertema Cinta, Patah Hati, atau Move On
  • Media karya lukis : kanvas/kertas
  • Media karya foto : kertas foto
  • Media mini artwork : bebas

Ukuran karya
lukis : max A3
foto : max A4
mini artwork : max tinggi 50cm, max lebar 50cm
– Karya lukis berframe
– Karya foto dibingkai bebas
– Karya lama atau terbaru
– Kirim foto karya via email ke info@festivalmelupakanmantan.com paling lambat 6 Februari 2017.
– Sertakan nama, instagram id, ukuran karya, dan nomer telepon.
– Pengumuman lolos kurasi 8 Februari 2017.
– Narahubung +62 857-4058-3046 (Gepeng)

 

 

Ki Hajar Dewantara di Festival Melupakan Mantan

by admin 0 Comments

Saya hampir murka begitu tahu bahwa acara keren bertajuk Festival Melupakan Mantan (FMM) 2016 ditempatkan di Pendopo Agung Tamansiswa. Bukan karena apa, tapi itu Pendopo Agung, Bung! Didirikan oleh tokoh besar pulak!

Jomblo amatiran tentu tidak akan mengerti sejarahnya. Baiklah, saya akan coba terangken. Ketika Tamansiswa mulai berkembang, Ki Hajar Dewantara merasa perlu membangun pendopo sebagai tempat berkumpul dan bermusyawarah dalam bentuk visual ruang kolosal yang layak menampung banyak orang. Maka pada 10 Juli 1938 didirikanlah Pendopo Agung Tamansiswa, yang peletak batu pertamanya adalah istri Ki Hajar Dewantara sendiri.

Tetapi peresmiannya baru dilakukan pada 16 November 1938, bersamaan dengan Kongres Tamansiswa. Jadi, Pendopo Agung Tamansiswa itu bukan tempat sembarangan. Di tempat itu, dulu pernah berkumpul tokoh-tokoh besar untuk merumuskan strategi kebudayaan bangsa. Mereka tidak digaji. Tidak pula berbusa-busa dengan janji.

Lalu, 78 tahun kemudian, di tahun 2016, Pendopo Agung itu dijadikan tempat bertemunya para jomblo yang belum tahu cara move on, atau pasangan labil yang masih belum bisa lepas dari bayang-bayang kenangan bersama mantan. Astaghfirullah… Itu bid’ah! Ki Hajar Dewantara tak pernah membayangkan pendoponya akan dipakai untuk acara FMM.

Saya semakin heran, kok berani-beraninya panitia FMM memilih Pendopo Agung Tamansiswa sebagai tempat berlangsungnya acara. Keheranan itu akhirnya menggerakkan hati saya untuk hadir dan memantau langsung acara di sana. Ingat, posisi saya sebagai PEMANTAU, bukan sebagai PELAKU. Meski kalian tidak akan percaya pada apologi saya. Apalagi setelah ini saya akan bikin pengakuan jujur—saya ke sana berempat dengan teman berjenis kelamin laki-laki, dan semuanya berstatus: JOMBLO! Salah satu di antara mereka bahkan baru ditinggal pacarnya awal Januari lalu. Sampai di sini, Anda dilarang kepo!

Baru masuk pintu pendopo, murka saya kendor seketika (laiknya berpapasan dengan Cita Citata) melihat papan petunjuk lokasi parkir yang tidak biasa. Di papan itu tertulis sebuah alegori kreatif berbunyi “Tempat Parkir Kenangan”. Usai memarkir kendaraan, saya keliling di sekitar pendopo sambil lalu melihat-lihat galeri unik yang dipasang panitia. Dengan mudah saya temukan tulisan “Jogja Berhati Mantan”, “Area Bebas Mantan”, “Tempat Pembuangan Mantan”, dan yang paling unik, “Saya Sumbangkan Mantan Saya!!! NB: Harap Dirawat”. Sumpah, ada nuansa estetis yang saya tangkap di sana.

Kemasan acaranya memang kreatif. Nuansanya seninya dapet. Apalagi puncak acaranya adalah ritual larung. Dengan tujuan: melarung barang-barang mantan, melarung yang buruk-buruk dari kenangan. Adanya larung sudah cukup syarat untuk mendapatkan tanda tangan sah Ki Hajar Dewantara sebagai bukti izin menggunakan Pendopo Agung Tamsis untuk acara PMM. Mengapa? Karena larung adalah ritual budaya, sesuatu yang dijaga baik oleh Ki Hajar Dewantara.

Larung oleh orang Jawa lebih dikenal dengan sebutan “larungan”, yakni upacara membuang energi negatif melalui perantara simbol benda-benda. FMM mengadopsi konsep larung untuk membuang benda-benda yang berasal dari barisan para mantan. Tujuannya untuk mendatangkan energi positif yang—dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan 2030—disebut muv-on.

Setelah saya pikir-pikir, ternyata FMM tidak asal-asalan memilih Pendopo Agung Tamansiswa sebagai lokasi acara. Dengan mengangkat tema manjing catur puspaning kalbu (terjemah bebasnya: obrolan dari hati ke hati), panitia FMM mencoba menarik garis penghubung dengan konsep angesthi widji dari Ki Hajar Dewantara, yakni mempersiapkan bibit unggul untuk masa depan yang lebih baik.

Jika Ki Hajar Dewantara mengadakan kongres di Pendopo Agung Tamansiswa untuk merumuskan masa depan bangsa, maka panitia FMM mengadakan festival demi menyelamatkan mental generasi bangsa. FMM adalah Kongres Tamansiswa dalam bentuknya yang lain. Bukankan cita-cita luhur Ki Hajar Dewantara tidak akan pernah terwujud jika generasi mudanya labil karena gagal move on?!

Alasan lain, FMM memasukkan unsur seni sehingga tidak bisa digolongkan sebagai bentuk pelecehan terhadap Ki Hajar Dewantara. Sebab pendiri Tamansiswa ini menjunjung tinggi karya seni. Dan FMM, di tangan panitia, disulap menjadi sebuah peristiwa kesenian. Melupakan mantan bukan sekadar upaya menggantikan kenangan lama dengan kenangan baru. Memang, di satu sisi, move on hanya persoalan seberapa cepat engkau mendapatkan pengganti baru. Tetapi cara terbaik untuk melupakan—atau lebih tepatnya menetralisir perasaan—bukan dengan menghapus ingatan, melainkan dengan menerima secara positif vonis pahit kenyataan.

Memang tidak mudah, karena itulah dibutuhkan seni. Para jomblo yang baru diputus pacar dan tidak punya modal apa-apa selain—menyerobot istilah Sujiwo Tedjo—IQ melati, ia akan secara brutal membuang semua hal yang berasal dari mantan. Padahal ada sesuatu yang tak mungkin mereka buang, yaitu sejarah dan ingatan. Maka, putra-putri bangsa yang berada di barisan sakit hati, tetapi mereka berbekal IQ berbintang, tidak akan berbuat barbar terhadap kenangan. Mereka akan memilih berdamai dengan kenangan. Meski dengan sikap: pantang kembali kepada mantan.

Kita bisa meminta legitimasi kepada Erich Fromm. Dalam buku The Art of Loving (1956), psikolog kelahiran Jerman ini mempunyai pandangan menarik tentang cinta-mencintai, atau sakit-menyakiti. Kata Fromm, mencintai bukan soal transaksi aku “memiliki” (to having) kamu, melainkan sebuah proses seni antara aku dan kamu “menjadi” (to becoming) kita. Begitu juga dengan melupakan. Ia bukan perkara menghilangkan (to lossing) ingatan, melainkan seni memindahkan (to moving) diri dari sekapan masa lalu menuju masa depan yang baru.

Sekeras apapun engkau membuang mantan dari ingatanmu, ia sewaktu-waktu akan hadir merajam-rajam hidupmu. Kalau tak percaya, bertanyalah kepada Madridista yang berusaha melupakan mantan, tetapi justru gagal karena serangan mantan. Ingat, musim lalu, Real Madrid gagal lolos ke final Liga Champion gara-gara Morata menjebol gawang mantan klubnya. Padahal Madridista sudah membuang keras-keras kenangan bersama Morata. Tetapi Morata hadir tiba-tiba, sebagai ancaman, dari seorang yang berstatus mantan. Adakah di dunia ini yang lebih menyakitkan ketimbang kegagalan yang disebabkan oleh ulah sang mantan? Mikiiir…! So, pandai-pandailah “berdamai” dengan mantan, tapi bukan untuk “balikan”.

 

* sumber : http://secariksenja.blogspot.co.id/2016/02/ki-hajar-dewantara-di-festival.html

Valentine ala Yogya: Pesta Melupakan Mantan

by admin 0 Comments

TEMPO.CO,Yogyakarta – Menyambut Valentine, sekelompok pegiat seni budaya di Yogyakarta menggelar acara unik. Acara yang sengaja dibuat untuk merespons tradisi perayaaan Valentine itu diberi judul Festival Melupakan Mantan, dan akan digelar di Pojok Beteng Wetan, Yogyakarta, Jumat, 13 Februari 2015.

Uniknya, pengunjung diminta membawa barang-barang milik “bekas pacar” untuk dikumpulkan pada saat festival. Rencananya barang-barang itu akan disumbangkan pada orang-orang yang membutuhkan.

Koordinator acara Seto Prayogi mengatakan donasi benda itu terinspirasi oleh tradisi larungan yang berkembang dalam budaya masyarakat Jawa. Tradisi itu sejatinya membawa pelajaran membuang energi negatif untuk bersiap menerima energi baru yang positif.

“Energi inilah yang nanti ke depan diharap bisa mendorong seseorang menjadi lebih baik,” katanya, Kamis, 12 Februari 2015. Menurut dia, untuk menjalani hidup yang lebih baik, seseorang harus optimis menatap masa depan. Sementara kenangan pada mantan, bisa menjadi energi negatif yang menghalanginya.

Panitia telah mempersiapkan sejumlah penampilan seni untuk memeriahkan festival. Di antaranya pertunjukan pantomim, musik akustik, danhappening art. Sejumlah nama penampil juga telah tercatat dalam agenda panitia. Mereka adalah Yuliono Songsot, Copet Mime, Eleven Chamber, Hasnan Fonticello, dan Naomi-Hall Jhon. Acara akan dipandu pembawa acara kocak khas Yogya, Alit-Alit Jabang Bayi, Gundhissos, dan Pripita Tyas.

Penggagas festival Eko Nuryono mengatakan kata “mantan” bisa memunculkan tafsir beragam. Festival ini, ia melanjutkan, sebenarnya ingin mengajak masyarakat untuk merenungkan kembali persoalan yang membebani untuk berkembang lebih maju.

Menurut dia, sebagai kota budaya yang terus berkembang, Yogyakarta butuh generasi muda dengan energi kreatif dan mencintai budayanya sendiri. “Bukan malah ikut-ikutan tema Valentine yang tak jelas itu,” katanya.

*sumber: https://m.tempo.co/read/news/2015/02/12/205641990/valentine-ala-yogya-pesta-melupakan-mantan

Valentine, Ada Festival Melupakan Mantan dan Jambore Jomblo

by admin 0 Comments

TEMPO.CO, Jakarta – Meski di beberapa kota dilarang, perayaan Hari Valentine tetap digelar di beberapa tempat. Perayaan Valentine kali ini lebih banyak ditujukan kepada mereka yang masih sendiri atau jomblo. Seperti acara yang diadakan di Yogyakarta dengan tajuk Festival Melupakan Mantan, pada Sabtu 13 Februari 2016 lalu. Festival itu digelar di Pendopo Agung Taman Siswa.

Berdasarkan informasi dari akun twitter @JogjaUpdate, acara di malam Valentine itu  mulai sekitar pukul 19.30 WIB, dengan catatan pengunjung acara mendonasikan barang mantan.

“Siapa aja yang pernah ngasi barang2 ini ke mantannya? kini telah didonasikan ke #festivalmelupakanmantan :),” ujar cuitan @JogjaUpdate dalam salah satu postingan foto yang menampilkan deretan barang-barang, seperti boneka, jaket, dan sepatu.

Sementara itu pada waktu yang bersamaan, kota Bandung mengadakan Jambore Jomblo Nasional 2016 yang diusung oleh Rumah Musik Harry Roesli. “Welcoming YOU!! #jamborejomblonasional #rmhr,” cuit akun twitter @cheszalive yang memposting foto seorang wanita sedang berdiri di samping frame lukisan bertuliskan “Selamat Datang di Panti Jomblo”.

Rencananya, dalam perayaan hari kasih sayang pada Ahad, 14 Februari 2016, Yogyakarta akan mengadakan Festival Jomblo. Menurut akun @Informasi123, acara tersebut akan dimulai pukul 20.00 WIB.

“Temukan jodohmu HARI INI!! di #festivaljomblo @kopigeek12 Jl Seturan Raya, Jogja. Jangan keduluan yang lain!!” ucapnya dalam caption postingan foto hari ini.

Festival Jomblo juga rencananya akan diadakan di Gorontalo hari ini. Berdasarkan postingan foto yang diunggah akun twitter @GorontaloUNITE, tim panitia sudah melakukan persiapan di Taman Kota Gorontalo, sehari sebelum acara.

*sumber: https://m.tempo.co/read/news/2016/02/14/205744723/valentine-ada-festival-melupakan-mantan-dan-jambore-jomblo

Pada Hari Valentine, Ada Festival Melupakan Mantan di Yogyakarta

by admin 0 Comments

KOMPAS.com — Biasanya, hari Valentine yang jatuh setiap 14 Februari menjadi hari yang dinanti para pasangan kekasih untuk mengungkapkan kasih sayang di antara mereka.

Namun, sejumlah anak muda Yogyakarta yang tergabung dalam kelompok Manggala Karya Ambuka Jagad (MKAJ) memiliki ide yang “bertentangan” dengan peringatan hari kasih sayang itu pada umumnya.

Pada Minggu (14/2/2016), para pemuda MKAJ malah mendedikasikan sebuah kegiatan bagi mereka yang dilanda putus cinta dengan menggelar “Festival Melupakan Mantan”.

Dalam ajang yang digelar di Pendopo Agung Taman SiswaYogyakarta ini diisi berbagai kegiatan unik.

Salah satunya, setiap pengunjung yang datang diminta untuk mendonasikan barang-barang pemberian mantan kekasih mereka.

“Ini acara yang kedua. Tahun ini akan lebih rapi dan seru,” kata Seto Prayogi, Ketua Panitia Festival Melupakan Mantan, saat dihubungi Kompas.com, Jumat (12/2/2016).

Seto menuturkan, tema festival tahun ini adalah “Manjing Catur Puspaning Kalbu”. Tema ini berasal dari sengkalan tahun Saka Jawa.

“Tahun 1949 Saka atau tahun 2016. Ini sesuai dengan tahun pelaksanaan Festival Melupakan Mantan,” tegasnya.

Arti Manjing Catur adalah memulai obrolan baru, sedangkan Puspaning Kalbu artinya niat hati yang baik. Jadi, jika dirangkum, artinya memulai percakapan yang berasal dari ungkapan hati.

“Tema tersebut akan diaplikasikan dalam festival ini, bentuknya saling sharing, refleksi masa lalu,” tandasnya.

Konsep Festival Melupakan Mantan ini tetap sama, yakni mengadopsi konsep tradisi larung. Dalam adat Jawa, melarung adalah simbol membuang semua hal negatif pada masa lalu agar ke depan menjadi yang lebih baik.

“Biasanya kan memotong rambut, kuku, lalu dilarung. Di acara ini, besok setiap yang datang akan menulis di kertas tentang masa lalu dan harapan ke depan, lalu kita bakar dan dilarung,” ujarnya.

Selain melarung, imbuhnya, juga akan ada acara donasi barang-barang pemberian mantan. Barang-barang yang didonasikan ini nantinya akan disortir lalu disumbangkan untuk yang membutuhkan.

“Barang pemberian mantan yang mungkin disimpan karena tidak ingin membuka masa lalu yang menyakitkan akan menjadi positif ketika didonasikan. Berbagi kasih dengan sesama yang membutuhkan,” katanya.

Diakuinya, festival ini merupakan salah satu kegiatan untuk mencintai kebudayaan. Hanya saja, dikemas dengan ringan agar anak-anak muda tertarik.

Acara digelar memang bertepatan dengan hari Valentine yang identik dengan sepasang kekasih yang mengungkapkan kasih sayangnya. Namun, sebenarnya pesan kasih sayang itu luas dan untuk semua orang, bukan hanya untuk sepasang kekasih.

“Tujuanya sama, menebarkan kasih sayang. Lalu merefleksikan,sharing dan berbagi kasih dengan donasi,” pungkasnya.

Penulis : Kontributor Yogyakarta, Wijaya Kusuma
Editor : Ervan Hardoko
*sumber : http://regional.kompas.com/read/2016/02/12/17362581/Di.Hari.Valentine.Ada.Festival.Melupakan.Mantan.di.Yogyakarta

Festival Melupakan Mantan, Ajak Donasikan Barang Pemberian Mantan Kekasih

by admin 0 Comments

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Bagi sebagian besar orang, melupakan mantan kekasih bukanlah perkara mudah. Apalagi, jika hubungan cinta yang dijalani cukup lama dan berkesan.

Anda yang belum bisa move on, ada baiknya datang ke Festival Melupakan Mantan. Acara yang berlangsung di Yogyakarta ini mengajak Anda melupakan mantan dengan cara yang positif.

Mei Diyanto, selaku panitia acara tersebut menjelaskan, peserta yang hadir disarankan membawa barang pemberian mantan. Ada pun barang yang terkumpul dari peserta akan di donasikan dalam acara bakti sosial.

“Barang-barang yang terkumpul nantinya akan kita donasikan dalam acara bakti sosial. Melupakan mantan harus diisi dengan hal-hal positif,” kata Mei kepada Metrotvnews.com di Yogyakarta, Jumat (12/2/2016).

Mei menilai, barang pemberian mantan seringkali menghambat seseorang untuk move on. Dengan merelakan barang pemberian mantan, para peserta diharapkan bisa segera bangkit dari kesedihan.

“Acara ini diselenggarakan satu hari sebelum perayaan Valentine. Lewat acara ini kita ingin memberi pemahaman, bahwa merayakan hari kasih sayang tak harus selalu dengan pacar. Kita juga bisa bahagia dengan saling berbagi,” tambah Mei.

Festival Melupakan Mantan berlangsung di Pendapa Agung Taman Siswa, Jalan Tamansiswa Nomor 25, Kota Yogyakarta. Acara berlangsung Sabtu, 13 Februari, mulai pukul 19.30 WIB.

Ini kali kedua Festival Melupakan Mantan digelar. Tahun lalu, acara ini mendapat respons yang cukup baik dan berhasil mengumpulkan beragam barang pemberian mantan seperti, parfum, jam tangan, jaket, sandal, sepatu, bahkan skripsi.

Bedanya, tahun lalu barang-barang peserta dimusnahkan. Tahun ini barang tersebut akan di donasikan.

“Kami hanya ingin memfasilitasi orang yang susah move on. Harapannya, bisa menggugah dan membangkitkan jiwa sosial,” pungkas Mei.

 

*sumber : http://rona.metrotvnews.com/read/2016/02/12/483314/festival-melupakan-mantan-ajak-donasikan-barang-pemberi